Beranda Daerah Asal Usul Rajah Kolo Cokro

Rajah Kolo Cokro

1068
0
BERBAGI

Rajah Kolo Cokro (4)

Kita lewati masa masa sulit di Demak sepeninggal Raden Patah, digantikan menantunya M Yunus, Adipati Yunus atau yang populer dengan sebutan Pati Unus, Berikutnya diganti adik iparnya, yang berarti anak kandung Raden Patah, Trenggono. Pergolakan internal dalam pergantian kepemimpinan tertinggi pasca Pati Unus ke Trenggono juga coba kita prememori.

Demikian juga cerita gugurnya Trenggono di Panarukan Situbondo, saya mencoba untuk tidak terlalu dalam menyinggungnya. Pasca Trenggono inilah, yang menjadi awal mula meredupnya Demak. Iya, kita coba fokus ke dinamika terakhir itu. Meski juga, jangan dalam dalam, ya hehe.

Baca juga: Rajah Kolo Cokro (1) Tahun Baru vs Hidung Mancung

Penguasa Demak berikutnya adalah Hadiwijaya, Joko Tingkir alias Mas Karebet, dia suami dari anak kandung Trenggono, Ratu Mas Cempaka. Karebet adalah putra dari Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging, yang masuk Islam di bawah asuhan Syaikh Siti Jenar.

Meski beda jalur dengan sejumlah petinggi lain, jika dirunut silsilahnya juga tetap dari Brawijaya hingga Rasulullah. Oleh Karebet, pusat pemerintahan dipindah dari Demak ke Pajang, masuk wilayah solo sekarang. Perkiraan saya dia sungkan, tapi wilayah kekuasaan secara kewilayahan tetap sama, pusaka dan arsip arsip penting juga diboyong ke Pajang.

Baca juga: Rajah Kolo Cokro (2) Jika Hendak Membangun, Kita Mulai Dari Mana ?.

Di awal kepemimpinannya, terjadi semacam delegitimasi, corak kepemimpinannya memang berbeda dengan Demak. Apalagi, masih terdapat, sebut saja, putra mahkota lain yang kala itu menjadi Adipati Jipang Panolan.

Siapa dia ?.

Tak lain adalah Aria Penangsang, putra Raden Kikin alias Pangeran Sedo Ing Lepen, Kikin adalah kakak Trenggono. Menurut sebagian rakyat, Jipang Panolan lebih Demak dibanding Pajang. Hubungan dua sepupu ini beku, Penangsang juga tidak mau mengakui kepemimpinan Karebet.

Dipihak lain, Karebet juga sungkan jika harus berkonfrontasi secara langsung. Pemicu masalah sebenarnya sudah berulangkali terjadi. Penangsang juga pernah mengirim sejumlah prajurit pilihannya untuk menyelesaikan Karebet tapi gagal.

Baca juga : Rajah Kolo Cokro (3) Benarkah Mbah Santri Murid Sunan Kudus ?

Puncaknya, atas inisiatif Sunan Kudus, keduanya dipertemukan untuk dilakukan, sebut saja mediasi di Jipang Panolan. Hanya terdapat dua kursi dalam pertemuan itu, satu untuk Karebet satu lagi untuk Penangsang. Satu terdapat Rajah Kolo Cokro hasil riyadlah Sunan Kudus, satu tidak. Inti dari pertemuan itu, keduanya gagal islah. Sudah, ya, sampai sini saja ceritanya… hihik, sorry.

Writer: Sunjani Ahmad
Editor: Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here