Beranda Tokoh Mas Andry, Jujur Saya Iri

Mas Andry, Jujur Saya Iri

1173
0
BERBAGI

Penulis: Fauzan Fuadi (Ketua Fraksi PKB DPRD Jatim)

Sudah kering airmata di pipi. Tapi kesedihan masih sangat terasa. Sosok yang selalu menjadi idola bagi siapa saja yang mengenalnya, meninggalkan kesan yang mendalam.

Tahun 2000 ketika saya mengikuti Mapaba di PMII UMM, saya baru sebatas tahu atau mendengar cerita-cerita dari senior tentang keluarbiasaan Mas Andry Dewanto.

Sebagai kader newbie di Malang, saya baru mempunyai kesempatan bertatap muka dengan almarhum ketika ikut Pelatihan Kader Lanjut, tahun 2002 di Lawang. Waktu itu Ketua Umum PC Sahabat Subhan Salim. Instrukturnya Sahabat Iskandar NH dkk. Itupun saya masih sungkan untuk menyapa. Masih malu-malu mengingat jarak dan senioritas kami yang terpaut lumayan jauh. Mas Andry ketika itu menyampaikan materi tentang Leadership. Beliau menjelaskan dengan sangat enak, gaya yang khas, dan gampang dicerna. Itulah materi kepemimpinan yang pertama kali saya dapat semenjak menjadi mahasiswa. Barangkali dari situlah juga yang membentuk karakter saya hingga sekarang. Dua jam lebih beliau menyampaikan materi, seperti menghipnotis kami para peserta.

Tahun 2004, ketika saya diberi amanat menjadi Ketua Umum PC PMII Kota Malang meneruskan Sahabat Khusen Yusuf, barulah interaksi dengan Mas Andry terbangun cukup intensif. Beliau termasuk salah satu dari sekian banyak senior di Malang yang begitu peduli dengan kami, para pengurus di Mbethek 164.

Pernah suatu ketika, kami dalam situasi terjepit. Kegiatan banyak, dan membutuhkan banyak biaya. Permintaan menghadiri kegiatan di Rayon dan Komisariat sudah menumpuk. Air dan listrik, sudah waktunya tahlil hari ketujuh. Mati. Bendahara, Sahabat Ali Jamal sudah malu cari pinjaman. Dan persediaan beras di belakang, habis tak berbekas. Saya lemes. Tidak sanggup berpikir dan mencari solusi, karena beberapa cara sudah terlalu sering saya jalani, dan saya malu mengulanginya lagi. Situasi terjepit seperti ini, sebetulnya biasa kami alami. Tapi selalu saja ada solusi. Min haisu la yahtasib. Tapi waktu itu saya benar-benar buntu. Sahabat-sahabat KOPRI yang biasanya menjadi hero dadakan, entah kenapa waktu itu tidak ada yang muncul, padahal beberapa diantaranya sudah di sms.

Sahabat Siswanto dan Sahabat Samsul Ma’arif (duo bidang eksternal pengurus cabang yang banyak ide, tapi kadang idenya tidak cerdas blas…) usul ke saya untuk SMS ke Mas Andry Dewanto. Isinya pengen sowan, diskusi dan ngalap berkah senior. Saya tidak begitu yakin melakukannya, sebab sudah terlalu sering kami merepotkan Mas Andry. Kalau tidak Mas Andry, ke Mbak Hikmah Bafaqih (waktu itu beliau sudah Anggota Fraksi PKB DPRD Kab Malang). Memang isi SMS nya tidak sambatan. Tapi maksud dan tujuan utama dibalik sowan, diskusi dan ngalap berkah, ya siapa tahu pulang-pulang disangoni.

Saya mulai ragu untuk tidak mengiyakan usulan mereka SMS ke Mas Andry. Lebih-lebih Om Ronald Juniawarsa sudah mulai kompor-kompor. “Ayo bos, saya yang bawa motornya wes. Sampean SMS Mas Andry, kita mau sowan. Lapar saya, sampean memangnya gak lapar? Saya yang sehat berisi saja lapar, masak sampean yang kurus kering begitu belum lapar?”, kira-kira begitulah waktu itu dialek Dayak om Ronald.

Sebelum saya lanjutkan ceritanya, saya ingin belok sedikit ke legenda motor butut di era kami di Mbethek. Adalah Vespa entah jenisnya apa, mesinnya suka rewel setengah mati, STNK dan BPKB nya tidak ada. Sahabat Siswanto si empu Vespa bersejarah tersebut. Aduh kalau di starter, uwiwuh Masya Allah. Tapi karena waktu itu tidak banyak ‘kendaraan dinas’ tersedia, kepakailah terus Vespa tersebut. Makanya, waktu Sahabat Ronald bilang, saya wes yang bawa motornya, itu karena dia tahu saya aras-arasen kalau bawa motor tersebut hehe..

Oke, saya lanjut ke cerita yang sebelumnya. Dengan terpaksa saya sms Mas Andry. Ting-ting (bukan Ayu Tingting lho ya…) sms saya kirim ke beliaunya. Dalam sms saya bilang ingin silaturrahim, kangen. Seingat saya, waktu itu tidak lama beliau kemudian sudah menjawab sms. Jawabannya, diluar ekspektasi. “Keperluannya apa mas? Kalau advise, diskusi, dengan senang hati saya tunggu di rumah. Tapi kalau lainnya, maaf ya belum bisa sekarang” Begini ini kalau terlalu ngarep. Ketika menerima jawaban seperti itu, Siswanto, Samsul, Ronald, langsung lemes. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tidak menjadi kenyataan. Gantian saya yang kebingungan harus menjawab sms Mas Andry seperti apa. Kalau bilang murni ingin diskusi, perut semakin keroncongan. Kalau bilang  keperluan lainnya, kok ya malu batal sowan gara-gara dibilang belum bisa sekarang.

Bismillah. Akhirnya kami tetap berangkat sowan ke Mas Andry. Dalam benak kami, tidak dapat sangu tidak masalah. Minimal bisa ngopi dan joint rokok bareng Mas Andry, itu sudah nikmat yang luarbiasa.

Akhirnya kami sampai di kediaman Mas Andry. Tak lama beliau keluar dari dalam menemui kami diluar dan mengajak masuk. Dan kami dibuat surprise. Belum juga Mas Andry keluarkan rokok. Belum juga kopi buat kami selesai untuk disuguhkan. Mas Andry sudah mengeluarkan dompetnya. Kami masing-masing diberi uang sangu satu persatu. Tidak perlu saya sebutkan berapa nilainya. Saya tidak ingat persis berapa, yang jelas cukup banyak. Saya ditambahi amplop khusus sambil berkata kepada yang lain : “Kalau ketua lain, karena kebutuhannya banyak”.

Kami bengong. Tidak bisa berkata-kata. Tadi saya waktu sms, katanya kalau keperluan lainnya, belum bisa sekarang. Ini baru duduk belum 5 menit, keperluan lainnya sudah langsung dibantu oleh beliau. Kami pun hanyut dalam obrolan ngalur ngidul, dan tanpa terasa waktu sudah semakin larut. Kami pun pamit. Sebelum beranjak dari temoat duduk, saya memberanikan diri bertanya ke Mas Andry : “Mas, katanya kalau keperluan lainnya tidak bisa sekarang. Kok tadi diawal kami langsung diberi uang?”

Dan jawaban Mas Andry membuat saya semakin berkesan : “Saya juga pernah memikul tanggungjawab seperti sampean mas… Saya pernah mengalami suka dukanya,” kata beliaunya singkat.

Apa yang dipikirkan oleh Mas Andry, hingga membuatnya berubah pikiran, saya tidak tahu. Mungkin waktu itu mau menguji kami, saya juga tidak tahu. Yang saya dan sahabat-sahabat lain pasti tahu adalah beliau orangnya humble, humanis, romantis dan sangat menyayangi keluarganya, peduli dan gak tegaan dengan adik-adik kadernya, koberan kalau urusan NU, sangat tawadhu’ dan hormat kepada yang lebih sepuh, dan seabrek hal positif lainnya. Satu lagi sih, ini bocoran dari Mbak Hikmah. Biasanya kalau anak PMII mau ketemu Mas Andy dan beliau pas kebetulan sedang tidak ada uang, Mbak Hikmah kerap jadi sasaran ala koperasi simpan pinjam.

Mas Andry tidak pernah pilih-pilih teman. Itulah yang membuat pergumulan sosial beliau bisa menembus batas-batas yang orang lain tidak kuasa melakukannya. Kecintaaannya terhadap komunitas juga tidak pernah membuatnya sektarian. Pembelaan beliau terhadap kepentingan komunal selalu ia dahulukan, melebihi nafsu duniawi pribadi, layaknya manusia pada umumnya. Setidaknya itu yang saya amati belakangan ini, ketika beliau menjadi Korprov TPP Jawa Timur. Begitu ngemong dan ngayomi. Ia bahkan tidak canggung mendengar orang yang secara usia lebih muda, berbicara mengutarakan pendapatnya. Mas Andry ibarat Ratu Lebah dalam koloni jaringan pendamping desa yang ada di Jawa Timur.

Kini, Mas Andry telah pulang. Mas Andry tidak pergi, ia dan pemikiran-pemikirannya akan tetap ada bersama kebaikan-kebaikan yang istiqomah beliau jalani dulu hingga akhir hayatnya. Saya termasuk beruntung mengenal beliau dan keluarga cukup dekat. Jujur saya iri dengan beliau. Meninggal dalam situasi pandemi, tapi sama sekali tidak mengurangi khidmat dan antusiasme orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Ucapan duka mengalir dari semua orang yang mengaguminya. Kita semua pasti akan pulang seperti Mas Andry saat ini pulang mendahului kita. Tapi bagaimana nanti kita akan pulang? Ya Allah, tiba-tiba air mata kembali menetes…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here