BERBAGI
Yudith Pratusi, Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) ciptakan deodoran berbahan dasar kulit Pohon Kesambi

Surabaya, Inspirasijatim.com – Yudith Pratusi, Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) ciptakan deodoran berbahan dasar kulit Pohon Kesambi yang merupakan tumbuhan asal daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kelebihan lain dari deodorant yang di buat mahasiswi jurusan profesi apoteker ini, juga dapat menjaga kesehatan ketiak dari serangan bakteri yang bisanya hidup di lipatan kulit yang cenderung menghasilkan keringat berlebih.

“Di daerah asalnya pohon ini hanya dijadikan tanaman jalan dan bahan bakar pengasapan. Namun, setelah saya cari referensi lain, ternyata riset tahun 2015 mengungkapkan adanya kandungan anti bakteri, sehingga saya coba mengembangkannya menjadi bahan utama sebagai deodorant,” kata Yudith, saat ditemui di laboratorium kampus setempat, Senin (15/1/2018).

Yudith juga mengungkapkan, masyarakat setempat secara turun temurun juga banyak yang memanfaatkannya sebagai obat kulit yang sangat manjur.

“Karena manfaat anti bakterinya, saya berusaha memanfaatkan cairan ekstrak dari kulit kayu kesambi yang kaya mengandung zat taraxerone dan zat tricadinenic acid A yang memiliki antimikroba dan antioksidan, sebagai menghambat bakteri di ketiak,” terangannya.

Cara pembuatan, dijelaskan Yudith. Langkah pertama adalah kulit pohon Kesambi di ekstrak dan diambil sarinya. Selanjutnya, dilakukan formulasi dan evaluasi stabilitas pH dengan tujuan untuk mengetahui apakah produk tersebut sudah aman dipakai atau belum.

“Pada tahap pengembangan, memerlukan enam formula sediaan deodoran dengan ekstrak etanol kulit kayu Kesambi yang kemudian diambil tiga formula terbaik untuk dievaluasi stabilitas PH. Bahan-bahannya untuk memformula, meliputi Carbopol 940 sebagai pembuat deodoran dengan menggunakan rentang safety dari BPOM, gliserin, etanol sebagai pelarut untuk menghasilkan zat yang diinginkan,” paparnya.

Kemudian, ada triethanolamine sebagai netralisir, DMDM hidantoin, dan ekstrak kulit kayu kesambi. Setelah itu, ketiga formula tersebut kemudian diuji stabilitas PH. “Dari hasil formulasi dan evaluasi stabilitas, diambil satu formula deodoran yang mengandung ekstrak kulit kayu kesambi yang mempunyai PH stabil yang disesuaikan dengan PH kulit,” jelasnya.

Setalah tahapan awal selesai dilakukan, selama 30 hari penyimpanan. Dirinya memilih kekentalan cairan yang tidak terdapat perubahan pada warna dan memiliki kekentalan gel yang pas untuk digunakan.

“Formula yang saya buat sudah terbukti menghilangkan bakteri, namun perlu ada penelitian lanjutan jika ingin diproduksi massal terkait dengan jangka waktu deodoran ini membunuh kuman,” ujarnya.

Ditanya, kesulitan. Ia mengaku hanya terdapat pada kesulitannya pada penentuan formula yang tepat. “Kesulitannya hanya karena membutuhkan berbagai pengujian, sehingga membutuhkan waktu yang tidak singkat,” tandasnya. (ito/ted) 

Sumber : Beritajatim.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here