BERBAGI
situs peninggalan kuno (foto: BuddhaZine)

Inspirasijatim.com  Konteks kesejarahan, semua yang berbau Majapahit relatif terurus. Pun demikian sejarah para wali, juga kerajaan kerajaan lain di nusantara. Ya, kecuali kerajaan Malawapati yang selalu menjadi perdebatan dari waktu ke waktu.

Semalam, saya dari Trowulan, sebuah wilayah yang ketika negara Singosari hingga Kediri yang dipimpin Jaya Katwang berdiri, wilayah tersebut masih berupa kawasan hutan yang terkenal dengan sebutan Hutan Tarik.

Baru sejak akhir abad ke 12, saat Raden Wijaya merintis sebuah negeri yang kelak kondang kaloko dengan nama Majapahit, wilayah itu menjadi bagian bumi paling penting di Djawa Dwipa. Ya, disitulah pusat pemerintahan Majapahit, dari situlah pusat peradaban dibangun.

Kini, salah satu jengkal tanah di wilayah itu berdiri sebuah pemakaman yang diberi nama Makam Troloyo. Tak tanggung tanggung, yang dikebumikan di situ adalah para tokoh bangsa dan tokoh agama pada jamannya. Tiga diantara yang saya kenal adalah Syaikh Jumadil Kubro, Sayyid Usman Haji alias Sunan Ngudung, dan Tumenggung Satim Singomoyo.

foto koleksi pribadi Ahmad Sunjani. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, serta menjabat sebagai Sekretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Bojonegoro. Penyuka sejarah, mempunyai kegiatan mengunjungi situs-situs kuno bersejarah.

Jumadil Kubro sudah sangat populer di telinga kita, keturunan ke 10 Sayyid Husain bin Ali ini menjadi tokoh paling penting saat awal awal perjuangan dakwah Islam Periode Kedua di Djawa di masa itu. Hingga kemudian diteruskan oleh kader kader berikutnya dalam wadah pergerakan yang terkenal dengan sebutan Majelis Walisongo.

Sedangkan, Ngudung tak lain adalah bapak dari Sunan Kudus. Dia adalah Panglima perang Demak yang sahid saat perang melawan Majapahit yang kala itu telah patah jadi dua yang masing masing dipimpim Bhree Wirabumi dan Bhree Kertabumi. Waktu itu, ibu kota sudah tidak di Trowulan lagi, tapi di Blambangan dan satunya di Daha Kediri.

Pria yang diyakini para ulama sebagai waliyullah ini gugur di tangan Adipati Terung alias Raden Kusen, Kusen adalah anak Aria Damar dan Dwarawati. Dengan demikian, dia adalah saudara seibu beda ayah dengan Raja Demak, Raden Patah. Kusen memang memiliki sikap politik yang berbeda, dia setia kepada negeri lamanya, Majapahit.

Sedangkan Satim, saya tidak cukup banyak literatur tentang Tumenggung ini. Yang pasti namanya disebut sebut dalam perjuangan dakwah oleh Jumadil Kubro. Dia memang diantara sedikit dari para pejabat Majapahit yang muslim saat itu. Dia berjasa besar. Istrinya bernama Raden Ayu Dewi Condro Asmoro, secara silsilah dia keturunan ke 6 Bupati Tuban pertama, Ranggalawe, dia juga berbau Arab karena perkawinan silang antara keturunan Lawe dan keturunan Rasulullah di Jawa.

Sepeninggal suaminya yang sahid, Dewi pergi bersama para kerabatnya ke arah timur, tepatnya wilayah Kota Batu kini, tinggal di sebuah kawasan yang ia beri nama Wonoaji, dan ia rubah lagi menjadi Bumiaji setelah berhasil mengelola sumber daya alam setempat terutama sektor kehutanan, peternakan dan pertanian.

Dia menyebar Islam di kawasan itu dan terhitung sangat berhasil, dia menyamar sebagai Mbah Tuwo di awal kehadirannya. Kini, konon, dia dinobatkan oleh Pemerintah setempat sebagai pendiri Kota Batu. Alfatihah…
Seperti biasa, saya pasti mampir ke kolam segaran jika ke sana. Nggak tahu, saya suka bangets… lokasi yang penuh sejarah.

Writer: Sunjani Ahmad
Editor: Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here