Beranda Daerah Asal Usul Tahun Baru vs Hidung Mancung

Tahun Baru vs Hidung Mancung

638
0
BERBAGI

Rajah Kolo Cokro (1)

Tahun Baru vs Hidung Mancung

Gaes, simak ya, aku kepingin cerita,

Alhamdulillah, hari ini saya bisa seperti orang kebanyakan. Menikmati tahun baru masehi yang jatuhnya sama persis, yaitu hari ini disepakati oleh manusia seantero bumi sebagai tanggal 1 Januari. Bersama 5 orang sahabat baik saya, saya ke Ngelo, sebuah Desa terpencil di Kecamatan Margomulyo, tepatnya di Dusun Pengulu. Saya ziarah ke makam Mbah Santri, sudah, nanti kita kupas di tulisan berikutnya saja.

Kembali ke soal tahun baru, kenapa bisa sama, karena perhitungannya menggunakan matahari, dimana perputarannya selalu sama sepanjang tahun. Konon sih, ada pergeseran, tapi sangat lambat, untuk bergeser dengan ukuran centi saja perlu ribuan tahun. Seandainya dulu yang digunakan adalah peredaran bulan, tentu perayaannya tidak seperti yang terjadi hari ini. Melainkan kita akan berdebat sepanjang tahun, kata sebagian kita tahun baru itu hari Ini, kata sebagian kita yang lain tahun baru itu besok.

O… iya, lalu perayaan tahun baru itu dimananya sih, apa yang dirayakan ?.

Mengapa kita harus bakar bakar jagung misalnya, kumpul dengan teman teman tiup terompet, menyalakan kembang api pada pukul 00.00, atau ngintip matahari muncul di tgl 1 januari lalu foto foto dan selfy selfy hingga rela menunggu semalaman di tepi pantai. Apa nggak bisa kalau bakar jagungnya nunggu tgl 2 ?, ya bisa, menyalakan kembang api besok ?, ya bisa wong besok ya ada jam 00, ambil gambar matahari lain kali ?. Bisa !. Matahari yang terbit kemarin itu ya matahari yang akan terbit besok, lusa dan seterusnya.

Lalu ?.

Ternyata gaes, perayaan tahun baru itu heroiknya ada di RASA. Rasa yang sama yang dialami oleh semua manusia penduduk bumi. Kalau sudah RASA yang bicara, jangankan pengetahuan, akal sehat saja kalah. Bahkan puncaknya menjadi mindset. Makanya yang dingin dingin saja di tahun baru, akan dimarahi.

“Tahun baru kok di rumah,” misalnya. Itulah hebatnya RASA, yang kerap kali menjadi pondasi cara berpikir kita. Rasa yang telah benar benar menyatu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. RASA ini telah menjadi kesepakatan dunia.

Coba kita bandingkan, mengapa pergantian tahun imlek, tahun jawa, tahun hijriyah, tidak seheroik tahun masehi ?. Iya, ada RASA memang, tapi RASA itu bukan RASA kita semua.

Iya kan ?.

Begitulah, dan RASA itu menjadi kesepakatan global.

Jadi ?.

Jadi gaes, seandainya kita punya RASA yang berbeda terhadap tahun baru masehi, percayalah, yang merayakan tahun baru akan kelihatan lucu, seperti kita menganggap lucu bagi orang yang tidak merayakan tahun baru saat ini.

foto koleksi pribadi Ahmad Sunjani. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, serta menjabat sebagai Sekretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Bojonegoro. Penyuka sejarah, mempunyai kegiatan mengunjungi situs-situs kuno bersejarah.

Masih tidak percaya ?. Contoh lagi, ini mengenai cara berpikir.

Sebuah produk deterjen dalam iklannya mengatakan,

“kotor itu baik “.

Produk ini ingin mengubah cara berpikir publik. ‘Sudah nggak apa apa kotor, nanti dicuci dengan deterjen anu’. Kita lihat reaksi anak anak saat bermain dan bajunya kotor. Coba tegur anak Anda, apa jawabnya. Contoh lagi, pria hidung mancung itu macho, cewek hidung mancung itu cantik. Mulai sekarang ayo coba kita kampanyekan, bahwa cewek cantik itu yang tidak mancung, pria tampan itu yang pesek. Kita kampanyekan terus sampai menjadi kesepakatan dunia, seperti kita menyepakati tahun baru masehi harus dirayakan. Yakinlah, kita bisa. Sepakat ?.

(Bersambung)

 

Writer: Sunjani Ahmad
Editor: Admin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here