BERBAGI
ilustrasi mengibarkan bendera merah putih (foto: jurnalpatrolinews)

Inspirasijatim.com  Saya termasuk yang ikut madzhab bahwa jasa Mahapatih Gajah Mada sangat besar terhadap Djawa Dwipa. Dalam konteks kebangsaan, cara berpikirnya juga terhitung visioner, konsep Bhinneka Tunggal Ika adalah salah satu bukti kecil setidaknya untuk 3 hal; keberagaman, persatuan, dan humanisme.

Selain itu, sumpah palapa yang dibacanya saat dilantik menjadi Perdana Menteri (patih) juga cukup cetar membahana, tak hanya melahirkan inspirasi, sumpah itu juga mengejutkan peserta lain dalam agenda sakral itu. Menurut saya itulah visi misinya, bila di jaman kini, para dirjen dan stafnya pasti harus sibuk menerjemahkan visi misi itu dalam program kerja baik jangka menengah maupun panjang. Semacam RPJM dan RPJP Nasional lah kira kira… Haha.

Dulu ada gitu gitu nggak ya ?.

Hanya saja, diakhir karier pilitiknya, tepatnya saat Raja Hayam Wuruk, dimana dia menjadi Mahapatihnya, dia mengambil keputusan belagu saat negerinya melakukan komunikasi bilateral dengan Kerajaan Pajajaran. Raja dan sejumlah kerabat yang datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan putri Raja dengan Hayam Wuruk malah dicegat di lapangan Bubat.

Intinya, terjadilah perang tak seimbang yang menewaskan seluruh rombongan termasuk Dyah Pitaloka, gadis cantik jelita berusia 17 tahun yang sedianya menjadi pengantin. Akibat dari peristiwa ini begitu luas, bahkan hingga kini. Tapi begitulah, politik kadang begitu. Semoga kita semua dijaga oleh Allah dalam mengambil keputusan keputusan penting. Aamiin.

Saya teringat Gajah Mada saat barusan saya mengunjungi situs kuno yaitu makam Amangkurat I di Tegalarum, Kabupaten Tegal, dimana di pemakaman tersebut juga dikebumikan sejumlah keturunannya, sejumlah sayid dan habaib, dan juga RA Kardinah, adik kandung RA Kartini yang menjadi pendiri rumah sakit di Kabupaten ini.

Nama aslinya Raden Mas Sayidin, dia anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Memimpin Mataram pada tahun 1646-1677, iya 31 tahun, nyaris sama dengan presiden kita kedua yang memimpin Indonesia selama 32 tahun. Ada yang menyebut dia Raja ketiga, ada juga yang menyebut keempat. Keempat jika Adipati Martapura, saudaranya lain ibu yang menjadi Raja hanya sehari dihitung.

foto koleksi pribadi Ahmad Sunjani. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, serta menjabat sebagai Sekretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Bojonegoro. Penyuka sejarah, mempunyai kegiatan mengunjungi situs-situs kuno bersejarah.

Dimasa kepemimpinannya, dari waktu ke waktu dipenuhi pemberontakan. Baik dari kalangan keluarga sendiri maupun orang lain, bahkan anaknya, Raden Mas Rahmad. Yang paling memilukan adalah saat melawan Surabaya, dimana Mataram harus kehilangan separuh lebih penduduknya baik secara langsung karena perang maupun karena kelaparan akibat negara kehabisan duit gara gara perang.

Sejumlah Kadipaten baik di timur Jawa maupun di belahan barat memilih merdeka karena Mataram yang terus melemah. Dalam situasi sulit seperti itu, dia berkeputusan untuk bekerja sama dengan wong londo, VOC, yang ketika itu juga telah mengambil alih Jakarta.

Padahal, bapaknya dulu, penentang penjajah yang teguh. Keputusan Raja yang memindah pusat pemerintahan dari Kotagede ke Pleret untuk bekerja sama dengan kompeni ini bukan membuat situasi negeri membaik, malah sebaliknya kian silang sengkarut. Kekuasannya akhirnya berakhir setelah Rahmad, anaknya sendiri yang bekerja sama dengan sejumlah pihak melakukan pemberontakan, sang Raja menjadi pelarian dan meninggal di kota tersebut. Sebelum meninggal, konon dia berpesan agar di makamkan di tempat gurunya, Tegalarum.

Konteks politik dimana seteru politiknya diberangus iya, tapi tidak untuk wilayah ekonomi, stabilitas politik, apalagi kesejahteraan. Terlalu banyak untuk saya sebut satu demi satu peristiwa pilu yang terjadi di masa kepemimpinannya. Sepertinya, para sejarawan kompak untuk menyebut bahwa masa suram Mataram adalah saat kepemimpinannya.

Sebagian lain bahkan berani menyebut dia sebagai Raja dholim. Ingat saya, data data para sejarawan sangat banyak mengenai ini, saya agak lupa, maklum buku yang saya baca waktu kuliah dulu itu hasil pinjam di perpustakaan kampus. Haha… saya jadi ingat Pak Muntholib, penjaga perpustakaan. Sorry pak, saya pernah bongkar bongkar lemari, ada dua buku belum tak kembalikan. Ikhlaskan, ya pak. Waduh, sorry sorry ngelantur.

Nah, fakta yang kemudian saya renungkan adalah bahwa kita ini pernah tercabik cabik. Di Jawa saja, sangat sedikit pergantian kekuasaan yang berjalan mulus, nyaris semua disertai pertumpahan darah, bahkan perang horisontal. Sudah terlalu banyak nyawa yang menjadi tumbal. Kini, ayo kita berindonesia saja. Gajah Mada telah memberi inspirasi kepada kita, para kyai dan ulama, juga para founding fathers bangsa ini, telah memilih konsep berbangsa yang paling baik, yaitu NKRI, negara yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Jadi, Sudahlah, Indonesia Saja.

Writer: Sunjani Ahmad
Editor: Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here