BERBAGI
Kotoran sapi yang melimpah dan terbuang sia-sia di desa Bringinan, Ponorogo menginspirasi Subarno untuk mengolahnya menjadi bisnis pupuk organik dan biogas (Foto : Istimewa)

Ponorogo, Inspirasijati.com – Inspirasi kadang kala muncul seketika, seperti yang dialami pria bernama Subarno menyulap kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk kandang. Ide itu muncul ketika ia melihat kotoran sapi yang melimpah dan terbuang percuma di desanya, yaitu Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur.

Meski saat ini ia tengah menjabat sebagai kepala Desa, Subarno tak malu memulai usahanya dari kotoran sapi. Setelah satu dekade memulai usahanya, pada 2017 lalu, ia juga mengajak warganya untuk menggunakan biogas berbahan kotoran sapi.

“Awalnya karena banyaknya warga yang memelihara sapi, namun kotorannya dibuang begitu saja,” tuturnya bercerita, pada Minggu (21/1).

Ia kemudian berinisiatif untuk mengambil kesempatan ini demi memanfaatkan kotoran yang dibuang percuma. Tak disangka, respon positif muncul usai ia membuat pupuk organik.

“Banyak warga yang justru menawarkan kotoran sapinya kepada saya,” ujarnya.

Untuk menggaet pangsa pasar, awal mula ia membagikan pupuknya kepada kenalannya. Setelah beberapa lama, banyak pemesan datang kepadanya. Selain itu, setelah pupuknya laku di pasaran, banyak petani dari berbagai  daerah datang untuk belajar kepadanya cara membuat pupuk organik.

“Tapi sayangnya, pupuk saya ini belum saya belum memiliki izin untuk nama produk, jadi untuk kalangan sendiri saja,” ucapnya.

Subarno menerangkan, dalam satu bulan ia sanggup memproduksi pupuk kandang sebanyak 5-6 ton. Produksi itu dibantu oleh dua orang pekerja. Satu karung isi 40 kilogram pupuk bubuk halus dijual seharga Rp. 20 ribu.

“Kalau yang granul satu karung di jual Rp 25 ribu”, ungkapnya.

Ia menambahkan, pupuk yang dia produksi mampu mengarah ke pembentukan tanah. Kandungan makro dan mikronya membuat tanah di sawah jauh lebih mudah di bajak dan penyerapan hara tanaman jadi lebih mudah.

“Kalau pakai pupuk ini sebelum tanam bisa menghemat pupuk kimia 30 persen,” katanya.

Bahan bakar biogas

Sementara itu, ia pun mengajak warganya untuk memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan bakar biogas untuk memasak. Hal ini disambut oleh warganya. Ia pun mengajukan bantuan pembuatan reaktor ke Dinas Lingkungan Hidup (LH) Ponorogo tahun 2016, dan 2017 lalu kegiatan ini rampung dilaksanakan.

“Bantuannya berupa dua reaktor besar untuk mengaliri enam rumah sekaligus, masing–masing reaktor untuk tiga rumah,” ucapnya.

Salah satu warga, Mbah Wagiman mengaku terbantu dengan adanya biogas ini karena selain bisa menghemat gas elipiji untuk memasak juga sisa dari pengolahan ini bisa dijadikan sebagai kompos.

“Dalam satu bulan bisa menghemat gas elpiji, kalau biasanya sebulan habis empat tabung melon, saya hanya tiga tabung melon saja, soalnya biogasnya untuk tiga rumah,” ujarnya.

Agar biogas menyala, setidaknya satu reaktor harus diisi minimal 8 kg kotoran sapi. Nantinya Mbah Wagiman bertugas mengaduk sembari sesekali mengisi air dalam reaktor.

 

“Ini supaya jadi contoh warga lain, selain kotorannya bisa buat biogas sisa pengolahan juga bisa dijadikan kompos,” ucapnya. [hy]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here