BERBAGI
Peci hitam menjadi simbol nasionalisme

Inspirasijatim.com – Peci hitam menjadi identitas kenegaraan hingga hari ini. Peci hitam tak selalu identik dengan ciri keagamaan. Utamanya di Indonesia, peci hitam menjadi simbol nasionalisme setiap individu. Baik itu pejabat, kaum intelektual, buruh maupun pedagang.

Awal mula pengenalan peci hitam sebagai identitas kenegaraan diperkenalkan oleh the Founding Father kita Soekarno. Kala itu, ia datang ketika pertemuan Jong Java di Surabaya di tahun 1921. Di tengah semangat budaya kebarat-baratan yang dipegang teguh para aktivis pergerakan, Soekarno tampil beda. Dengan gagah dirinya memberikan pandangan tentang perlunya mempertahankan identitas kebudayaan sendiri di tengah penjajahan.

Menurutnya: “…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Itulah awal mula Soekarno mempopulerkan peci hitam, seperti yang dituturkanya dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams. Dan sejak saat itu juga, Soekarno memilih untuk menggunakan peci sebagai pakaian resmi kenegaraan.

Menilik dari sejarah penggunaan peci, terdapat beberapa pendapat mengenai pengenalan sejarah peci. Salah satunya Rozan Yunos dalam ‘The Origin of the Songkok or Kopiah’ dalam The Brunei Times, 23 September 2007, menganggap bahwa songkok atau peci berwarna hitam diperkenalkan para pedagang arab yang juga menyebarkan agama Islam di Nusantara (Indonesia). Disaat bersamaan, dikenal juga istilah serban atau turban. Namun, penggunaan serban hanya digunakan khusus untuk orang yang ahli beragama atau cendikiawan.

Bentuk penutup kepala seperti songkok juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya di Bone, Sulawesi Selatan yang dikenal dengan songkok recca. Menurut sejarah, songkok jenis ini digunakan pasukan Bone saat berperang melawan pasukan Tator pada tahun 1683.

Sementara menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam ‘Sejarah Nasional Indonesia III’ peci tampaknya telah diperkenalkan di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Saat itu, Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, dan membawa kopiah atau peci sebagai buah tangan ketika kembali ke Ternate.  

Asal muasal songkok akhirnya menjadi spekulasi karena tak lagi digunakan oleh orang Arab sendiri. Di beberapa negara Islam, seperti Mesir dikenal dengan istilah tarboosh dan di Turki dengan istilah fez.  Ditarik lebih jauh, penamaan nama fez di kawasan Asia Selatan memiliki nama yang berbeda. Utamanya seperti India, Pakistan dan Bangladesh disebutnya sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atau Rumi Cap (Topi Rumi).

Peci barangkali agak dekat dengan kepi dalam bahasa Prancis. Bentuk kepi yang biasa dipakai militer Perancis agak mirip dengan kopiah yang dikenal di Indonesia. Perbedaannya terletak pada bentuknya yang agak bulat dan ada semacam kanopi di bagian depannya yang mirip topi. Sementara istilah songkok mengacu pada bahasa melayu dan bugis. Di beberapa daerah di Indonesia yang dipengaruhi bahasa Bugis dan Melayu, menyebut peci sebagai songkok. Begitupun di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Kini, peci menjadi identitas nasionalisme bagi para pejabat publik ketika hadir di tengah gelaran acara maupun saat bertemu dengan masyarakat. Seperti yang sering dipakai oleh Menteri Desa dan PDTT Abdul Halim Iskandar. Politisi asal PKB itu memang dilahirkan di dalam tradisi pesantren. Dan hal itulah yang menjadi dasar mengapa setiap ada kegiatan di ranah publik selalu menggunakan peci hitam.

Selain itu, pergeseran penggunaan songkok yang mulanya sebagai identitas keislaman kini tak lagi dimaknai sama. Hal itu berkat peran Soekarno yang menjadikan songkok sebagai identitas kenegaraan dan menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda.    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here