BERBAGI
Ahmad Masruri, penemu alat fogging sederhana

Inspirasijatim.com – Mewabahnya penyakit Demam Berdarah (DB) di Ponorogo akhir-akhir ini turut meresahkan Ahmad Masruri (36). Bagaimana tidak, penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegipty tersebut meneror warga di sekitar rumahnya di Desa Sentono, Kecamatan Jenangan.

Untuk mengantisipasi jatuhnya korban, akhirnya pria yang akrab disapa Ruri itu membuat fogging sederhana agar bisa disimpan warga. Ia terinspirasi membuat alat tersebut dari pengalamannya saat menjadi TKI di Korsel. Menurutnya, setiap rumah di Korsel pasti memiliki alat fogging mandiri.

“Di Korsel, tiap 2 minggu sekali warganya fogging lingkungan tempat tinggal,” tutur Ruri saat ditemui di rumahnya, Kamis (7/2/2019).

Dipaparkan Ruri, alat fogging buatannya ini terbuat dari sprayer burung miliknya yang kemudian ia rangkaikan dengan sebuah pemantik las portabel. Dan, jadilah alat fogging sederhana.

Untuk mendapatkan pemantik las portabel, Ruri dapatkan secara mudah. Karena ia sendiri memiliki bengkel las sehingga mudah mendapatkan alat tersebut.

Untuk membuat alat fogging sederhana tersebut, Ruri dengan senang hati membeberkan caranya. Pertama, ujung las portabel tersebut sudah ia modifikasi agar bisa dipasang pipa tembaga bekas pendingin ruangan yang telah dibentuk lekukan-lekukan. Pipa tembaga ini adalah jalur dari cairan fogging yang kemudian dipanaskan oleh api dari las portabel.

Cara kerjanya pun cukup mudah, ketika pemantik alat portable dinyalakan maka akan memanaskan pipa tembaga yang telah dipasang di ujung las. Kemudian ketika pipa tembaga sudah terlihat panas maka cairan pembasmi nyamuk yang telah dimasukkan ke sprayer kemudian disemprotkan, yang sebelumnya telah dihubungkan dengan selang pada ujung tembaga dengan sprayer tersebut.

“Cara kerjanya sebenarnya sama persis dengan rokok-rokok eletrik yang ada di pasaran hanya ini menggunakan gas portabel,” ungkap Ruri.

Untuk membuat alat fogging tersebut, ungkap Ruri, dibutuhkan waktu hanya hitungan jam, dengan catatan semua alat tersedia.

“2 jam merangkainya, hanya saja untuk memenuhi semua pesanan saya masih belum sanggup, pesanan las bengkel juga sedang menumpuk,” ungkapnya.

Ruri juga mengakui jika alat fogging sederhana tersebut sudah ia buat sejak pertengahan tahun lalu. Awalnya hanya ia gunakan sendiri dan untuk tetangganya yang membutuhkan. Dengan mewabahnya penyakit DB itulah pesanan mulai berdatangan.

“Satu alat ini hanya menghabiskan dana Rp 500 ribu saja,” beber bapak satu anak itu.

Ruri pun berharap semua warga bisa memiliki alat tersebut. Agar warga tidak tergantung kepada pemerintah semata untuk melakukan fogging. Dan, ia pun mempersilahkan kepada siapapun untuk belajar membuat alat sederhana ini.

“Kita bisa secara swadaya membeli obatnya karena memang dijual bebas,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here