BERBAGI
Aplikasi membran MMM-NKTZ untuk pemisahan gas CO2 (Foto: Humas ITS)

Inspirasijatim.com – Persoalan pengolahan emisi gas Karbondioksida (CO2) di Indonesia masih belum menemukan langkah spesifik. Padahal efek dari CO2 tersebut berdampak terhadap kesehatan manusia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mencoba mengembangkan material aplikasi membran MMM-NKTZ untuk pemisahan gas CO2 sebelum dilepas ke udara.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Rafika Amalia Annur, Safiratul Firdaus, dan Retina Faizatun N yang berasal dari Departemen Kimia, Fakultas Sains ITS.

Amalia menjelaskan bahwa penelitian timnya ini lebih mengarah kepada pengembangan material aplikasi membran untuk pemisahan gas CO2. Sebab, menurutnya selama ini material umum untuk membran adalah zat karbon dan zeolit. Karbon digunakan karena luas permukaannya besar dan zeolit digunakan lantaran memiliki tingkat penyerapan CO2 yang tinggi.

“Hingga akhirnya banyak peneliti yang mulai mengembangkan gabungan kedua material ini menjadi tertemplat zeolit (KTZ),” ungkap Amalia melalui siaran pers Humas ITS, Kamis (25/7/2019).

Pengembangan KTZ tersebut bertujuan untuk mendapatkan material yang mampu menyerap CO2 dalam jumlah banyak dan luas permukaan yang besar seperti material zat karbon dan zeolit ketika digabungkan. Mahasiswi angkatan 2015 ini menggunakan material KTZ yang telah diberi doping nitrogen (menjadi N-KTZ) sebagia pengisi membran pemisahan karbondioksida.

“Dengan adanya gugus nitrogen yang bersifat basah, kami harap mampu mengikat gas CO2 yang cenderung sifatnya asam,” terang Amalia.

Amalia dan tim membuat aplikasi membran tersebut berawal dari keresahannya melihat limbah gas CO2 acap kali dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu.

Hal ini diyakini Amalia dan tim akan menyebabkan terjadinya pemanasan global. Sebab, ungkap Amalia, di tahun 2016 saja emisi gas CO2 sudah mencapai 49.3 giga ton.

“Yang mana itu setara dengan 72 persen dari total emisi gas pada tahun tersebut,” tambah gadis berkaca mata tersebut.

Meski aplikasi membran ini dalam tahap penelitian, mulai dari proses pembuatan material N-KTZ hingga pembuatan membran flat MMM-NKTZ serta uji daya serap gas CO2. Amalia dan timnya berharap temuan ini nantinya dapat digunakan pada skala industri.

“Jadi gak hanya kilang minyak saja, namun juga dapat diaplikasikan di industri lain yang mengemisikan limbah CO2,” katanya.

Tim PKM binaan Nurul Widiastuti ini juga berharap agar penelitian mereka dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya. Lantaran, sambung Amalia, aplikasi membran ini tidak hanya dapat mengurangi emisi gas CO2 tetapi juga bisa digunakan untuk sektor lain.

“Nantinya kalau dikembangkan lebih jauh lagi, berbagai sektor industri di Indonesia akan mampu mengolah limbah CO2 dengan lebih matang,” pungkasnya dengan mantap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here