BERBAGI
foto diambil dari https://indonesiaituindah.com/8-tempat-wisata-di-madiun-yang-wajib-dikunjungi-ketika-liburan.html

inspirasijatim.com, Madiun –Pasti sudah banyak yang mengenal asal muasal Kota Surabaya. Dari pertempuran legendaries Sura (Hiu) dengan Baya (Buaya). Tetapi ada yang tahu, dari mana kata Madiun berasal. Ya kali ini kita akan membahas sejarah tentang Madiun.

Menurut cerita, Madiun merupakan suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno atau dikenal dengan sebutan Ki Ageng Ronggo.  Ada 2 Versi yang berkembang, yakni Kata Madiun dapat diartikan dari kata “medi” (hantu) dan “ayun-ayun” (berayunan), dikarenakan ketika Ronggo Jumeno melakukan “Babat tanah Madiun” terjadi banyak hantu yang berkeliaran. Versi kedua diambil dari nama keris yang dimiliki oleh Ronggo Jumeno bernama keris Tundhung Medhiun.

Kabupaten Madiun, berdiri pada tanggal paro terang, bulan Muharam, tahun 1568 Masehi. Lebih tepatnya jatuh hari Karnis Kilwon tanggal 18 Juli 1568 atau dalam penanggalan Jawa bertepat Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487.

Sejarah berawal pada masa kesultanan Demak, yang ditandai dengan perkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus, dengan Raden Ayu Retno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan Dolopo. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Purabaya (sekarang Madiun). Pangeran Surya Patiunus menduduki kesultanan hingga tahun 1521 dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati.

Pangeran Timoer dilantik menjadi Bupati di Purabaya tanggal 18 Jull 1568 berpusat di desa Sogaten. Sejak saat itu secara yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah seorang Bupati, dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak dari tahun 1518-1568.

Pada tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari desa Sogaten ke desa Wonorejo atau Kuncen, Kota Madiun sampai tahun 1590. Pada tahun 1686, kekuasaan pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Bupati Pangeran Timoer (Panembahan Rama) kepada putrinya Raden Ayu Retno Djumilah. Bupati inilah selaku senopati manggalaning perang yang memimpin prajurit-prajurit Mancanegara Timur.

Pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purbaya dengan Mataram menderita kekalahan berat. Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya yang hanya dipertahankan oleh Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kesil pengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun)

Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawidjaja dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Sutawidjaja dan diboyong ke istana Mataram di Pleret (Jogyakarta) sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya.  Maka bertepatan pada hari jum’at Legi tanggal 16 Nopember 1590 Masehi digantilah nama purbaya menjadi Madiun. (W)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here