Beranda Daerah Asal Usul Jika Hendak Membangun, Kita Mulai Dari Mana ?.

Jika Hendak Membangun, Kita Mulai Dari Mana ?.

273
0
BERBAGI
foto hanya ilustrasi hutan (foto: commons)

Rajah Kolo Cokro (2)

Jika Hendak Membangun, Kita Mulai Dari Mana ?.

Kami berenam, dengan tiga motor matic produk Jepang, kami menembus jalan hutan kurang lebih 15 km, dimulai dari Dusun Dadapan, tepatnya dari rumah shahabat saya, Khoirul Anam, dia Ketua DPAC PKB Ngraho. Kondisi jalan naik turun, penuh tikungan dan berliku, sesekali bebatuan, cor plat, paving, dan juga tanah.

Tubuh kami terguncang, sesekali harus berhenti karena sepeda nggeduk, maklum sepeda pendek. Bukan karena keberatan muatan, lho, sumpah… wong bobot saya ringan, kok. Langsing. Haha.

Perlu waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke lokasi. Karena sejauh mata saya memandang yang terlihat adalah hutan, maka yang saya pikirkan pertama dalam perjalanan adalah bahwa saya hendak mengapresiasi pihak Perhutani.

Daerah situ ikut KPH mana, ya ?.

Pak kader, pak mandor, pak mantri, pak sinder, dan pak ADM, kondisi hutannya lumayan. Paron paron lah, ada tanaman lama dan aman, ada tanaman hàsil reboisasi, tinggal kita genjot sebagian yang masih gundul. Sebagai bagian dari sistem pemerintah, saya siap lho diajak diskusi soal ini.

Pohon di hutan tidak hanya berfungsi menjaga alam, tapi juga penghasilan, penyediaan oksigen untuk makhluk hidup dan masih segudang manfaat lainnya. Apalagi kalau kemudian rumusnya adalah ‘Hutan Lestari Masyarakat Desa Hutan Sejahtera’.

Saya juga tahu kok, Perum Perhutani punya program Perhutanan Sosial, PHBM, sistem sharing hasil dan pemberdayaan masyarakat desa hutan. Memang butuh keterlibatan dan komitmen banyak pihak, ini memang bukan sesuatu yang sederhana.

Yang saya pikirkan kedua, kalau hendak membangun, kita mulai dari mana ?

Ngelo itu, dari ujung ke ujung panjangnya 15 km, itu berarti setara Bojonegoro-kalitidu bro, satu desa. Penduduknya, kata kades, hanya 1000 lebih sedikit. SDA rendah, jumlah dan sarana pendidikan pas pasan, sarana dan SDM keagamaan minus, belum ada sentra ekonomi pasar misalnya.

Wong kalau mau belanja harus nyebrang bengawan solo kok, pakai perahu kecil, ada pasar di sana, dan itu sudah wilayah Keradenan, Blora. Kalau ada warga mati diproses sendiri, itu juga baru baru, dulu ya ngebon dari Keradenan.

“Biyen ora eneng seng iso ngedusi mayit,” ujar kades.

Terus dari mana akan mulai ?. Dari infrastruktur dasar misalnya, yaitu jalan, sedikitnya, jalan pokok yang harus dibangun di kawasan ini sepanjang 30 km kira kira. Coba kita hitung, kalau lebar jalan 3 meter, berarti 90 ribu meter persegi. Paving itu per meter persegi kalau pakai bestek standart PU berapa, ya ?. Sudah, kita hawak saja, misalnya Rp 100 ribu, berarti butuh duit Rp 9 miliar.

Waauw… untuk satu desa dari 430 desa di Bojonegoro, yang penduduknya hanya 1000, dalam satu tahun anggaran ?. Tentu tidak mungkin, butuh sangat banyak variabel, padahal ini kita belum bicarakan prosentase jumlah anggaran dengan desa lain.

Di pihak lain, desa dengan kondisi sama di kecamatan setempat pasti ada. Apalagi kalau kita sebut kecamatan lain, ada Boti dan Napis di Tambakrejo, ada Klino di Sekar, ada Bunten di Kedungadem. Pinjam istilah Rhoma… “dan banyak lagi yang lainnya, jreng jreng…”.

Pemerintah Desa bikin perahu yang layak, misalnya ?. Jangan dulu, itu juga dilema, lha kalau akses ke sana lancar, ekonomi malah lari ke Blora nanti. Yang kerja orang Ngelo yang kaya pedagang Keradenan, hehe. Seperti tren di daerah perbatasan lainnya, sepeda motor saja banyak AE dan K, sakit perginya juga ke rumah sakit kabupaten tetangga. Ibadah dan cari duitnya disini kok, “pahalanya” dikasihkan daerah lain.

foto koleksi pribadi Ahmad Sunjani. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, serta menjabat sebagai Sekretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Bojonegoro. Penyuka sejarah, mempunyai kegiatan mengunjungi situs-situs kuno bersejarah.

Ah, rumit. Ya, sudah kita fokus ke solusi saja, e mugo mugo ke depan, pelan tapi pasti bisa ditangani pemerintah. Desa membangun, membangun desa. Semoga pemerintah desa bisa dengan baik mengelola DD dan ADDnya, infrastruktur iya, pemberdayaan iya, splitkan juga untuk beasiswa bagi warga miskin ya pak kades, agar 10 tahun ke depan sudah banyak orang pinter di sana.

Akses jalan ke Ngraho pelan pelan diperbaiki, warga sakit bawa ke Ngraho, ewoh mantu belanja ke pasar Ngraho. Terus sebagai langkah percepatan, ayo kita ngomong sama Perhutani. Iso gak yo ?.
Eh, sek sek, satu lagi, kalau ada dermawan yang sudi menyekolahkan dan memondokkan anak dari sana bagus lho. Itu malah langkah percepatan yang kongkrit.

(Bersambung)

Writer: Sunjani Ahmad
Editor: Admin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here