BERBAGI
Ketiga mahasiswa berprestasi dari ITS

Inspirasijatim.com – Prosesi menambang emas biasannya menggunakan logam merkuri sebagai bahan penambangnya. Bila dibiarkan, merkuri sangat berbahaya apabila terakumulasi dalam tubuh ikan maupun manusia.

Karena itu, untuk menanggulangi dampak buruk dari logam merkuri yang terkandung dalam emas saat proses pemurnian tiga mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya; Vicario Baroroh, Irmariza Shafitri Caralin dan Alvin Rahmad Widyanto membuat invasi baru.

Ketiga mahasiswa tersebut berhasil menemukan jika ampas tebu rupanya bisa digunakan untuk dijadikan bioserben yang mengikat merkuri saat proses pemurnian emas.

Bioserben merupakan bahan yang memiliki banyak pori-pori sehingga proses adsorpsi (penyerapan) dapat berlangsung pada dinding pori atau terjadi pada daerah tertentu di dalam partikel tersebut. Proses uji biosorben merkuri tersebut dilakukan dengan menggunakan karbon aktif dari ampas tebu.

Setelah melakukan eksperimen, ternyata ampas terbukti dapat mengurangi kadar bahaya merkuri dalam emas hingga 92 persen. Bahkan meski kadarnya berkurang, merkurinya masih bisa dipakai kembali untuk memurnikan emas.

“Penggunaannya efektif hingga 100 kali permunian,” kata Vicario Baroroh dalam rilis yang diterima inspirasijatimcom, Kamis (3/1/2019).

Setelah ampas tebu diaktivasi, ujar Roroh menjelaskan, oleh larutan natrium hidroksida dan hidrogen klorida, hasil aktivasinya dilanjutkan dengan adsirpsi logam merkuri. Tujuannya untuk mengidentifikasi kapasitas adsorpsi dan isotern, yaitu nilai perubaha keadaan gas pada suhu yang tetap.

Hasil uji coba tersebut ternyata membuktikan perlakuan aktivasi ternyata memberikan perubahan ukuran pada adsorben (zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari suatu fase fluida) yang semula berukuran besar menjadi lebih kecil dan selektif.

“Ukuran kecil inilah yang membantu meningkatkan kapasitas adsorpsi terhadap merkuri,” paparnya.

Pemilihan ampas tebu sebagai bahan karbon aktif sendiri, ujar Roroh, didasarkan pada fakta bahwa kandungan selulosanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan sekam padi maupun jerami.

Dengan kandungan selulosa yang tinggi, lanjut Roroh, maka akan berdampak pula pada kapasitas adsorpsi merkuri yang tinggi.

“Selain itu, pemilihan ampas tebu ini pun didasari oleh keberadaannya yang mudah dijumpai di masyarakat,” tambahnya.

Tak sia-sia, dengan kerja keras serta semangat tim, ketiga mahasiswa potensial yang dibimbing oleh Ir Endang Purwanti S MT ini berhasil meraih juara pertama di ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Cosmos di Universitas Diponegoro Semarang, beberapa waktu lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here