BERBAGI
Pardi, penjual bakso Pak Dhi yang digemari mahasiswa ITS khususnya jurusan Arsitektur

Inspirasijatim.com – Bagi mahasiswa Institute Tekhnologi Sepuluh Nopember (ITS) bakso Pak Dhi telah menjadi legenda turun temurun tiap angkatan. Selain memiliki cita rasa yang khas, warung yang berada di kantin Arsitektur itu memiliki cerita di benak para pelanggannya.

Acapkali, para alumni angkatan tahun 1990-an masih menyambangi warung tersebut baik ketika ada urusan dengan pihak kampus atau bernostalgia ketika masih menjadi mahasiswa ITS.

Bahkan, salah satu alumni yang suka membeli bakso Pak Dhi adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Risma sendiri merupakan alumnus ITS jurusan Arsitektur yang lulus sarjana strata 1 tahun 1987.

Kala itu, kenang pria bernama asli Pardi itu, dirinya hanya berjualan keliling di kampus ITS dan perumahan dosen sebelum akhirnya menetap di kantin Arsitektur.

Pardi mengungkapkan, saat masih kuliah, Wali Kota Surabaya itu sering membeli baksonya. “Dulu waktu masih di bawah tangga Bu Risma sering beli bakso saya, kalau disini (kantin baru) belum pernah,” kata Pardi kepada wartawan, Jumat (4/10/2019).

Meski sudah menjadi orang nomer satu di Surabaya, rupanya Risma masih belum bisa melupakan nikmatnya bakso buatan Pak Dhi. Sesekali, orang kepercayaannya disuruh untuk membeli baksonya.

“Anak buahnya, orang pemkot yang kesini,” tambahnya.

Selain itu, ketika Pemkot Surabaya melangsungkan acara di ITS yang kebetulan dihadiri oleh Risma, Pardi selalu dipanggilnya dan memesan bakso.

“Dulu kalau Bu Risma ada acara di sini selalu panggil saya. Saya disuruh ngantarkan bakso, kan Bu Risma dulu kuliahnya di Arsitek (ITS) sini, lulusan Arsitektur,” terangnya.

Selain Risma, para alumni ITS terutama jurusan Arsitektur juga kerap membeli baksonya, terutama ketika menggelar sebuah acara di kampus.

Dirinya bersukur dagangannya selalu laris dan baksonya juga selalu dirindukan para alumni ITS terutama jurusan Arsitektur.

Ketika perkuliahan aktif, cerita Pardi, kantin Arsitektur selalu ramai dan baksonya akan diburu mahasiswa maupun pegawai ITS.

Tak jarang, ia mempersilahkan semua orang yang membeli bakso untuk mengambil sendiri menunya. Sebab, pardi hanya sendirian dan harus membagi waktu untuk mencuci mangkuk-mangkuk bakso.

Dalam hitungan jam, ungkap Pardi, mangkuk bakso yang harus dicuci sekitar 150 buah.

“Karena saya sendirian, enggak ada yang kora-kora (cuci piring). Mangkuk bakso itu menumpuk di meja-meja, banyak yang belum diambilin. Ada 150 mangkuk masih di meja,” tambahnya.

Pardi selalu menutup warungnya pukul 17.00 WIB meski habis atau tidak dagangannya. Selain digunakannya untuk beristirahat, pada tengah malam Pardi harus memasak bakso untuk di jual di hari berikutnya.

“Jam lima sore kan sudah sepi, jadi ditutup. Saya pulang ke rumah dipakai untuk istirahat. Jam dua pagi saya bangun, masak. Jam 7 pagi saya jualan lagi. makanya istirahat kurang,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here