BERBAGI
Ilustrasi Gejala Epilepsi Pada Anak

Surabaya, Inspirasijatim.com – Ketika anak menderita epilepsi, timbul rasa khawatir yang pastinya tidak akan pernah berhenti di pikiran para orang tua. Apalagi ketika melihat si anak kejang-kejang akibat penyakit elipsi. Meski berat, para orang tua harus tetap menghadapi epilepsy pada anak dengan cara yang benar. Epilepsi merupakan sebuah kelainan pada sistem saraf pusat atau lebih tepatnya gangguan pada aktifitas sel saraf di otak. Selain kejang-kejang, penderita juga akan menampakkan perilaku yang tidak biasa dan kadang-kadang kehilangan kesadaran akan dirinya.

Epilepsi pada anak tergantung pada kesehatan ibunya ketika mengandung. Gangguan kesehatan ketika ibu-ibu hamil dan proses persalinan yang sulit bisa menjadi indikator gangguan otak dan timbulnya epilepsi. Karena itu kejadian epilepsi pada anak-anak lebih tinggi. Jenis epilepsi pada bayi dan anak sangat beragam. Menurut dr. Hardiono Pusponegoro, Sp. A, dari divisi saraf anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sebagian besar kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya. Namun beberapa diantaranya disebabkan karena ganguan otak seperti kelainan bawaan, trauma otak, infeksi, hingga kekurangan oksigen saat persalinan.

Meskipun epilepsi bukan termasuk penyakit menular, para orang tua harus perlu mengetahui cara mengatasi epilepsi pada anak agar si kecil terhindar dari bahaya epilepsi. Berikut ini adalah beberapa olahan dari berbagai sumber tentang cara mengatasi epilepi pada anak yang perlu dilakukan:

  1. Diagnosa Kejang Anak

Saat kondisi seperti ini, sebaiknya anda jangan panik. Fokus saja pada kondisi anak anda. Pastikan posisikan dia dalam keadaan yang aman. Jauhkan dia dari benda-benda yang tajam, benda yang keras, tangga, dan perabot rumah. Setelah itu, baringkan tubuhnya ke arah kanan agar cairan dalam mulutnya bisa keluar.

Selama dan setelah kejang berakhir, anak anda mungkin ketakutan dan bingung dengan kondisi yang dialami. Tenangkanlah dia dengan berkata bahwa semua baik-baik saja dan bahwa anda selalu ada di sisinya. Biarkanlah dia untuk beristirahat. Hindari memberikan obat tambahan kecuali diresepkan oleh dokter.

Kejang-kejang bukanlah kondisi yang mengancam nyawa, gejala kejang pada anak dengan epilepsi tidak harus kejang kelojotan sampai mengeluarkan busa dari mulut. Kejang yang dialami anak dapat berupa kekakuan pada seluruh tubuh, atau kaku sebagian di tangan atau tungkai anak, anak seperti melamun karena hilang kesadaran sebentar, atau anak seperti kehilangan tenaga sehingga tiba-tiba terjatuh.

Penyebab kejang pada bayi dan anak yang berbeda-beda ini bergantung kepada fokus kejang di area otak. Diagnosa kejang anak dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan electroensefalografi (EEG) sehingga dokter memperoleh informasi mengenai lokasi sumber kejang di otak anak dan mengetahui jenis epilepsi pada anak. Diagnosa kejang anak bermanfaat dalam penentuan jenis pengobatan yang tepat bagi epilepsi anak.

  1. Cari Tahu Pemicu Kejang

Dengan mengetahui pemicu gejala kejang, serangan kejang akibat epilepsi pada anak dapat dihindari. Serangan kejang pada anak saat pengobatan epilepsi dapat disebabkan karena hal berikut ini:

  • Lupa minum obat
  • Lupa makan
  • Kurang istirahat atau tidur
  • Anak mengalami stres fisik atau emosional
  • Demam
  • Kekurangan kadar obat anti epileso dalam darah
  1. Persiapkan Sejak Awal Obat Anti Epilepsi

Perlu diketahui bahwa obat yang diberikan kepada anak dengan epilepsi adalah obat untuk mengendalikan akibat yang muncul karena epilepsi. Bukan obat untuk menyembuhkan epilepsi seketika. Sebaiknya orang tua mendiskusikan dengan dokter mengenai obat anti epilepsi yang cocok diberikan untuk mengobati epilepsi anak. Dokter anak akan memberikan satu jenis obat anti epilepsi dan dosis pengunaan yang tepat bagi anak. Jika dosis maksimal obat telah diberikan, namun belum dapat mengendalikan kejang pada anak. Jenis obat yang diberikan dapat bertambah.

Ada banyak jenis obat-obatan yang tersedia untuk menangani epilepsi pada anak. Obat-obatan tersebut antara lain:

  • Phenytoin
  • Carbamazepine
  • Divalproex Sodium
  • Ethosuximide
  • Topiramate
  • Gabapentin
  • Oxcarbazepine
  • Zonisamide
  • Lamotrigine
  • Felbamate

Obat-obatan tersebut umumnya memiliki efek samping seperti pusing, mual, pening, penglihatan ganda, ruam, dan ketidakseimbangan tubuh. Sementara efek samping yang jarang terjadi antara lain hiperaktif, depresi dan mudah tersinggung.

Pastikan anak Anda mendapat obat yang tepat dengan kondisinya. Konsultasikan ke dokter jika Anda bingung menentukan obat epilepsi yang tepat untuknya. Jika anak Anda telah memasuki bangku sekolah, pastikan dia mengetahui tata cara pemakaian obat tersebut seperti dosis dan waktu meminumnya saat di sekolah. Jelaskan pula kondisi anak Anda pada gurunya.

  1. Patuhi Ketentuan Mengkonsumsi Obat-Obatan Anti Epilepsi

Umumnya, beberapa jenis epilepsi yang dialami anak membutuhkan perawatan hingga 2 tahun. Jika selama 2 tahun tersebut anak mengkonsumsi obat anti epilepsi tidak lagi mengalami kejang, maka anak dapat dikatakan bebas dari epilepsi. Agar cara mengatasi epilepsi pada anak dapat berhasil, butuh kedisiplinan anak agar teratur mengkonsumsi obat dan bantuan orang tua untuk memantaunya. Berikut ini adalah tips minum obat anti epilepsi:

  • Minum obat secara teratur, jika dosis 2x sehari, maka anak harus minum obat setiap 12 jam. Jika 3x sehari berikan obat per 8 jam.
  • Jika terlambat, segera berikan obat epilepsi pada anak ketika teringat.
  • Konsultasikan ke dokter yang merawat anak, jika anak terlupa minum satu dosis obatnya.
  • Jaga ketersedian obat epilepsi anak, setidaknya mencukupi untuk kebutuhan 2 minggu.
  • Diskusikan obat atau vitamin lain yang akan dikonsumsi anak kepada dokter anak, agar tidak mempengaruhi kerja obat anti epilepsi anak.

Jika anak sudah tidak kejang selama dua tahun. Orang tua jangan langsung menghentikan pemberian obat anti epilepsi anak. Konsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan dosis yang tepat selama proses penghentian obat bertahap.

  1. Dekati Dari Sisi Kejiwaannya

Anak yang menderita epilepsi mungkin mengalami gangguan emosional seperti rendah diri atau depresi. Namun, jangan biarkan hal itu terjadi pada buah hati anda. Untuk menguatkan kondisi kejiwaannya, jelaskan seluk-beluk penyakit yang dideritanya seperti apa itu epilepsi, seperti apa gejalanya, dan bagaimana cara mengatasinya.

Tumbuhkan kepercayaan dirinya dengan mengatakan bahwa Si Kecil masih bisa melakukan aktivitas yang dia suka, namun harus dilakukan secara hati-hati atau perlu pengawasan. Bantu Si Kecil untuk memahami bahwa ‘menjadi berbeda’ adalah hal yang normal, anjurkan untuk terus berfokus pada apa yang bisa dia lakukan. Dia juga masih bisa berprestasi, karena epilepsi tidak memengaruhi kecerdasannya.

Katakan pula kondisi yang dialami anak anda pada seluruh anggota keluarga dan teman-temannya agar tidak terlontar kata-kata yang bisa menyakiti hatinya. Jelaskan kepada mereka bahwa epilepsi bukanlah penyakit menular. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk menjauhinya.

  1. Jaga Keselamatannya

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya dampingi anak anda ketika dia sedang menjalani aktivitas yang bisa membahayakan nyawanya, misalnya berenang. Ditakutkan, epilepsinya kambuh ketika dia sedang bermain di air. Ketika hal itu terjadi, segera keluarkan dia dari air. Atau pakaikan pelindung kepala saat ia bersepeda dan jangan biarkan dia bersepeda sendirian.

Saat berada di kamar mandi, beri tahu dia agar tidak mengunci pintu kamar mandi. Jika sewaktu-waktu dia mengalami kejang-kejang, Anda bisa dengan mudah menolongnya. Jangan biarkan Si Kecil terlalu kelelahan dan mengalami demam karena hal ini bisa memicu terjadinya kejang-kejang.

Itulah 6 cara untuk mengatasi epilepsi pada anak yang perlu dilakukan oleh para orang tua selama perawatan. Dukungan dari orang tua sangat diperlukan anak agar dapat pulih total dari penyakit kronis ini.[mm]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here